aku gagal menjagamu agar tetap bersamaku, tapi aku pastikan kamu akan abadi ditulisanku.
Merapikan Ruang Jiwa
Ada saat-saat ketika aku duduk sendirian, memandangi ruang dalam diriku yang terasa seperti rumah tua. Di sana, banyak hal yang pernah indah kini retak. Dinding-dindingnya penuh coretan luka, dan lantainya berserakan pecahan harapan yang tak pernah benar-benar pulih. Aku tahu, di rumah ini, kebahagiaan hanya datang sebentar. Ia seperti tamu yang mampir sejenak, lalu pergi tanpa pamit. Aku tak pernah benar-benar merasakannya tinggal lama. Tapi aku juga tahu, jika seseorang memutuskan untuk masuk ke sini, aku tidak ingin mereka terluka oleh kekacauan yang ada. Maka, aku mulai merapikan. Aku memunguti serpihan harapan yang berserakan, menyusunnya kembali meski bentuknya tak sempurna. Aku membersihkan dinding-dinding luka, mencoba melapisinya dengan lapisan baru berupa penerimaan. Aku membuka jendela, membiarkan cahaya masuk sedikit demi sedikit, meski rasanya sulit untuk terbiasa dengan terang setelah lama berada dalam gelap. Tiap sudut rumah ini mengingatkanku pada masa lalu yang ingin k...